A Little Imagination That Become Real

I am imagination. I can see what the eyes cannot see. I can hear what the ears cannot hear. I can feel what the heart cannot feel.

something wrong here !

” ANIME !!! … ANIME !!! “

Meg sudah berusaha berteriak sekencang mungkin tetapi pintu kelas itu tetap saja tidak mau terbuka . Jangan salah ! , apa yang dimaksud Meg dengan ’ Anime ’ bukanlah sebutan untuk kartun asal negri sakura ( Jepang ) . Melainkan nama orang yang misterius . Saat ini Meg tengah terjebak di dalam kelasnya sendiri , untuk membuka pintu kelasnya Meg harus menjawab teka - teki yang diberikan . Ada sebuah puisi yang biasa saja , tetapi nama penulisnya tersobek . Meg pun dituntut untuk mencari nama sang penulis tanpa petunjuk apa pun . 

Sebelumnya Meg mencoba untuk mencari petunjuk di setiap sudut di dalam kelas , mulai dari meja , kursi , sampai tempat sampah di dalam kelasnya pun ia periksa dengan detail . Akhirnya Meg menemukan sobekan nama sang penulis tersebut di atas lantai tak jauh dari tempat sampah itu . Meg pun membacanya ” Anime ! ” katanya lantang , namun itu semua salah .

” ANIME … ITU NAMANYA CEPAT BUKA PINTUNYA … !!! ” terikanya sambil menggedor - gedor pintu kelasnya . Sia - sia saja , tidak ada yang mau membukanya karena ia salah menjawab . 

Meg pun pasrah , ia berpikir bahwa ia akan terjebak di kelasnya sampai pagi menjelang . Ia pun terduduk lemas di bangkunya , iaa pun juga membiarkan sobekan nama dan sebuah puisi tergeletak di lantai . 

2 jam telah berlalu , ia masih tetap berada di dalam kelasnya .’ Hari sudah mulai gelap , ia harus segera pulang , tapi apa yang bisa aku lakukan ? , yang aku bisa hanya melamuni puisi dengan penulis bernama Anime? ini ….. ’ batinnya dalam hati sambil mengambil puisi tersebut 

” Lohhh ini …. !!! ” katanya sambil membolak - balikkan puisi tersebut . Ia juga langsung menyambar sobekan nama itu , kemudian membaliknya juga . 

Meg meloncat girang , ia lalu menymbar kapur tulis dan mulai menuliskan sebuah nama di papan tulis itu 

    ANIME 

       =

    EMINA

Meg menulisnya dengan besar , dan mulai berkata

” Emina !!! “

Seraya pintu kelaspun terbuka lebar untuknya , ia pun berlari menuuju luar sekolah .  Di luar sekolah , kakaknya yang bernama Leo dan beberapa polisi tengah kebingungan mencari - cari Meg

” KAKAK …. !!! ” teriak Meg dari kejauhan . Leo terkejut dan langsung membalikkan badan ” Meg ? ” tanyanya heran , ” Meg ?!?!? Syukurlah …. ” lanjut Leo sambil memeluk adik perempuannya itu . Leo pun berterimakasih kepada polisi yang membantunya dan memarahi adik kecilnya itu seraya pergi meninggalkan sekolah tersebut .

Di tengah perjalanan pulang , Meg menceritakan segalanya kepada kakaknya itu . Mendengar itu Leo langsung terdiam dengan wajah khawatir

” kakak kenapa ? ” tanya Meg yang ikut khawatir , ” tidak .. tidak ada apa - apa , cepat ! ibu sudah memasak di rumah ! ” Leo mengelak , Meg curiga dengan sikap kakaknya itu , sepertinya Leo mengetahui sesuatu tentang ceritanya itu . 

Meg pun pulang dengan perasaan curiga ~

bersambung ~

Obor di dalam Mansion

Di tengah malam yang sunyi , seorang gadis berjubah berjalan tanpa tujuan . ia hanya berjalan sambil memegang obor yang apinya hampir padam . gadis itu mulai khawatir jika obor yang dibawanya sebagai penerangan padam di tengah jalan , namun karena ia hanya seorang gadis ia kesulitan untuk memanjat dan memaatahkan beberapa dahan pohon untuk dijadikannya obor yang baru.

Sang gadis mulai putus asa , setiap kali ia memanjat ia terjatuh , setiap kali ia berusaha ia selalu gagal , apa yang harus ia lakukan ? . akhirnya ia pun gadis itu hanya mencoba memanjat sekali lagi . 

ketika ia memanjat , ia melihat sebuah mansion tua yang cukup besar . gadis itu heran , padahal ketika ia memanjat sebelumnya mansion itu belum ada ! . tapi gadis itu tidak menghiraukannya mengingat obornya yang hampir padam . gadis itu pun memutuskan untuk pergi ke mansion tua itu dan meminta beberapa kayu untuk dijadikan obor.

tok .. tok

” Permisi … apa ada orang di dalam ? ” tanyanya dengan lembut , namun tak ada jawaban sama sekali . tiba - tiba saja pintu mansion tua itu terbuka dengan sendirinya , gadis itu pun masuk ke dalam mansion itu dengan sedikit tegang , ” aku datang untuk meminta beberapa kayu ! ” ia kembali berkata , tetapi tetap saja tidak ada jawaban , ” u .. untuk kujadikan obor … ” lanjutnya dengan sedikit gemetar . 

Kemudian sebuah obor menyala dari kejauhan , gadis itu hanya terkejut sedikit , dan segera menghampiri obor yang ada di hadapnnya itu . namun , ketika ia melangkah obor itu pun menjauh . ia coba mendekatinya lagi tapi obor itu terus menjauh dan menjauh 

” ini tidak lucu ! ” katanya kesal , ia mengira bahwa seseorang di dalam mansion tengah mengerjainya . tetapi kenyataannya tidak .

gadis itu diam sejenak sambil melihat obor yang terus menjauh , ia berpikir bagai mana caranya mengembil obor yang menjauh dengan sendirinya . ia berpikir .. berpikir … dan akhirnya 

gadis itu berlari sekuat tenaga menuju obor itu , dan pada akhirnya obor itu pun ia raih . 

sederhana saja , sang gadis telah menyadari bahwa ketika ia berjalan satu langkah obor itu langsung menjauh … , tetapi secera perlahan - lahan , lalu ia berpikir kembali , bagai mana jika ia berlari ? , tentu saja jawabannya dapat .

ia pun segera keluar dari mansion itu dan kembali berjalan ditengah malam yang sunyi sabil memegang obor . ketika ia menoleh ke arah mansion tadi , mansion itu telah lenyap . ia hanya terkejut dengan penuh keheranan , karena takut ia kembali membalikkan badan dan segera pergi dari tempat itu . 

semenjak kejadian di malam yang sunyi itu . mansion itu seringkali muncul dan menghilang di hadapan orang - orang yang datang di malam yang sunyi sambil membawa obor seperti gadis tersebut . 

tapi hanya gadis itu yang dapat menemukan cara untuk mengambil obor itu dan pergi dengan penerang baru di tangannya .

- The End -

creat by : Rin - chan